Thursday, October 28, 2010

MEMBANGUN AKHLAK MULIA DENGAN KONSEP 7 B

Semoga Allah Yang Maha Tahu segalanya, menkaruniakan dan memberikan kepada bangsa Indonesia yang aeroplane cintai bersama suatu formulasi yang tepat bagi penyelesaian krisis multi dimensi yang melanda negeri ini, se-hingga dapat bangkit menjadi bangsa yang ber-martabat diantara bangsa-bangsa di dunia ini. Seluruh lapisan masyarakat dan kelas atas sam-pai rakyat jelata mencari jalan keluar dan kemelut yang berkepanjangan ini. Semuanya sibuk mem-permasalahkan berbagai bidang kehidupan bang-sa, bukanlah mencari solusi untuk mengatasinya. Mungkin bisa mulai dari sekarang merancang suatu solusi dengan menelusuri penyebab timbul-nya masalah bangsa ini, diantara penyebab yang batten potensial adalah krisis akhlak yang telah merasuk dan menjiwai hampir semua masya-rakat Indonesia siapapun orangnya jika telah me-miliki krisis akhlak, maka dirinya tidak akan mem-bawa manfaat bagi orang lain. Akhlak bisa dijadikan sebagai alat ukur kesuk-sesan seseorang, Sayangnya masyarakat Indonesia sering mengakui kesuksesan seseorang dari harta kekayaan, gelar, pangkat, jabatan, ke-dudukan dan popularitas serta penampilannya. Akibatnya banyak anak bangsa ini berusaha de-ngan segala cara untuk memperoleh hal-hal ter-sebut demi untuk kesuksesannya tanpa meng-indahkan syari'at agama masing-masing. Banyak orang yang bangga dan terhormat dengan gelar-gelar pada dirinya walaupun mungkin dengan cara membeli. Hal ini akan memberikannya sebuah ke-percayaan diri untuk tampil di muka umum, pada-hal sebenarnya ia hanyalah sosok yang hidup da-lam kepalsuan, sandiwara dan sama sekali tidak terhormat. Ada yang merasa bangga ketika men-dapat jabatan, padahal pribadinya tidak bisa men-jadi suri tauladan. Keputusannya tidak menjadikan sebuah solusi dan tidak mencerminkan kearifan, karena jabatannya digunakan untuk kepentingan pribadi, bukan untuk bangsanya. Ada yang merasa bangga dengan popularitas, karena dengan itu akan banyak di kenal orang dan dapat dimanfaat-kan untuk mendapatkan kemudahan-kemudahan. Kesemuanya itu dikarenakan niat yang jelek, bu-kan niat untuk membangun bangsanya. Kini semua harus sepakat bahwa alat ukur ke-suksesan bukanlah topeng dunia yang sudah di-sebutkan tadi. Islam memandang bahwa sesung-guhnya orang yang batten mulia disisi Allah adalah orang yang batten taqwa dan batten berhasil mem-baca, menggali, dan memompa potensi dirinya, sehingga bisa berkarier yang terbaik dijalan Allah. Itu akan memberikan manfaat bagi dirinya dan ba-gi orang lain serta martabat bagi dunianya dan membawa arti bagi akherat nanti. Itulah makna dari sebuah kesuksesan. Orang yang sukses adalah orang yang mampu menyukseskan dirinya dan orana lain. Orang lain merasa sukses karena mendapat sesuatu yang bermanfaat dari orang yang sukses bukannya o-rang sukses di dunia ini, karena ia banyak harta tapi banyak pula orang lain teraniaya karena harta kekayaannya dikarena dengan cara korupsi, me-nindas bawahan dan segudang keburukan la-innya. Memang tidak ada orang yang menolak sukses, tapi tidak sedikit orang yang tidak tahu cara mencapai kesuksesan yang hakiki yaitu memperoleh akhlak yang mulia. Untuk itu dicoba, untuk meraih suatu solusi da-lam rangka keluar dan krisis multi dimensi yang berkepanjangan ini dengan suatu konsep yaitu 7B (Beribadah dengan benar; Bertaqwa dengan baik; Belajar tiada henti; Bekerja ke-ras dan ikhlas; Bersahaja dalam hidup; Bantu se-sama; Bersihkan hati selalu). Kalau tahapan-tahapan tersebut dilaksa-nakan dengan baik jangan kaget jika bangsa ini ini bisa terlepas dari krisis yang se-dang melanda dan akan menjadi bangsa yang ter-hormat dan ber-martabat. Konsep 7B Konsep 7B yang dimaksud adalah : a. Beribadah Dengan Benar. Awali setiap peker-jaan dengan suatu niat yang baik yaitu hanya un-tuk memperoleh keridhoan Allah Ta'ala semata. Hal itu merupakan suatu ibadah dengan benar. Beribadah dengan benar akan membuat sese-orang semakin tawadhu, hati rnenjadi tentram dan kehidupan akan seimbang. Hidup tanpa ibadah bagaikan bangunan tanpa fondasi. Maka segala sesuatu yang akan dilakukan hendaknya berda-sarkan pada ibadah yang tujuannya untuk mem-peroleh keridhoan dan kasih sayang Allah SWT. b. Bertaqwa Dengan Baik. Selaku manusia yang beragama haruslah menjalankan syariatnya de-ngan baik. Untuk dapat menjalankan syariat de-ngan baik tentu harus dibarengi dengan iman. Iman seseorang dapat dikatakan berkualitas, jika ia dapat bertaqwa dengan baik. Dengan iman dan taqwa yang baik segala perbuatannya akan senantiasa ber-dasarkan kepa-da syariat aga-ma dan tidak akan merugikan mahluk ciptaan Allah yang lain. c. Belajar Tia-da Henti. Ibadah benar dan akh-lak baik belum-lah cukup jika tidak didukung upaya belajar dari kita. Belajar merupakan sua-tu kebutuhan bahkan kewa-jiban. Sebagai-mana firman Allah SWT dalam Al-Qur'an "Aku senantiasa me-ningkatkan de-rajat beberapa tingkat bagi me-reka yang berilmu". Demikian pula sabda Nabi Muhammad SAW, "Tuntutlah ilmu mulai dari buai-an sampai liang lahat" dan "Tuntutlah ilmu walau-pun sampai negeri Cina". Dari hari ke hari ma-salah, potensi konflik, dan kebutuhan kita akan terus bertambah. Bagaimana mungkin kita mam-pu menyikapi masalah tersebut dengan ilmu se-adanya tanpa ada peningkatan kualitas dan kuantitas? Ciri orang yang sungguh-sungguh dalam men-capai kesuksesan adalah mau belajar tiada henti dan memperoleh ilmu baik ilmu dunia maupun ilmu akherat. d. Bekerja Keras dengan Cerdas dan ikhlas. Kita harus menanamkan standar pada diri kita, yaitu bekerja optimal dengan pemikiran yang cerdas. Ada orang yang bekerja dengan keras tapi kurang menggunakan akalnya, akibatnya dia hanya men-jadi pekerja keras saja tanpa ada kemajuan. e. Bersahaja Dalam Hidup. Seorang pekerja ke-ras seringkali terpuruk karena ketidakbersaha-jaannya dalam hidup. Dia boros, senang berme-gah-megah, sehingga mudah terpedaya dan ter-tipu orang lain. Lain halnya jika dia bersahaja. Kemampuan keuangan kita lebih tinggi diban-dingkan kebutuhan kita. Kita jadi orang yang gemar menabung, bersedekah, dan investasi untuk masa mendatang yang bermanfaat bagi diri kita maupun generasi mendatang. Inilah budaya yang harus kita ajarkan ke masyarakat kita saat ini. Budaya kita bukanlah budaya yang banyak memiliki banyak ba-rang, tetapi budaya yang selalu memiliki nilai tam-bah dari segala yang kita miliki. f. Bantu sesama. Salah satu alat ukur kesukses-an adalah dilihat dari kemampuan kita memba-ngun diri dan orang lain, misalnya dengan mem-buka lapangan kerja sebanyak mungkin. Kelebihan yang kita miliki digunakan untuk memajukan sanak saudara, tetangga, teman, pembantu, dan siapa saja yang mau maju dan membutuhkan. Jika an-tara orang yang membantu dan orang yang di-bantu memiliki kesamaan tata nilai, ibadah benar; taqwa baik, belajar tiada henti, serta kerja keras dengan cerdas dan ikhlas, maka apa yang telah dihasilkan oleh keduanya akan digunakan untuk menolong saudaranya. Dengan demikian terjadi-lah sebuah sinergi yang harmonis dalam kehidup-an bernegara. g. Bersihkan hati selalu. Untuk apa kita harus se-lalu membersihkan hati? Apa yang kita lakukan, dari B yang pertama hingga B yang keenam jika tidak diiringi dengan selalu membersihkan hati, maka dikhawatirkan akan timbul ujub atau bahkan yang lebih besar lagi yaitu takabur. Jika semuanya menjadikan kita ujub, maka sia-sialah apa yang telah dilakukan. Allah tidak akan menerima amal seseorang kecuali ada keihkhlasan didalamnya. Kita tidak perlu merasa batten bisa, berjasa, dan batten mulia karena semuanya adalah karunia Allah semata. Kita harus bersyukur diberikan jalan kesuksesan atau kemudahan bagi orang lain oleh Allah. Inilah orang yang akan sukses karena tidak ada dalam dirinya rasa ujub dan sikap takabur dengan segala prestasi yang diraihnya. Apalah ar-tinya kita mendapat banyak hal bila kita tidak men-dapat ridho dari Allah karena kesombongan kita. Jika kita laksanakan tujuh langkah dan rumus ini maka akan menjadi mantap upaya pencapaian tujuan dalam membangun bangsa ini. Bagaimana bisa keluar dari krisis jika, misal, akhlak kita kurang baik? Maukah kita membeli kebutuhan bulanan kita kepada penjual yang akhlaknya jelek? Maukah kita melihat para pemimpin kita yang buruk akh-laknya? Maukah kita mendapat pasangan hidup yang cantik tapi akhlaknya jelek? Pastinya kita ti-dak menginginkan semua itu. Berarti ada celah kegagalan dalam diri kita. Bagaimana jika kita tidak suka belajar? Suatu saat nanti kita akan dihadapkan pada suatu masa-lah mentok, maksudnya adalah tidak memiliki jalan keluar karena ilmu kita kurang. Bagaimana jika kita tidak suka kerja keras de-ngan cerdas dan ikhlas? Kita pun tahu bahwa se-gala sesuatu yang dilakukan tanpa kesungguhan maka hasilnya pun kurang maksimal. Untuk itulah rumus 7B ini didesain menjadi sa-tu kesatuan untuk meminimalisasi keterpurukan. Kita harus sama-sama belajar menetapkan kiat ini dalam diri kita dan keluarga. Jika sedikit demi sedikit upaya yang kita lakukan telah mem-buahkan hasil, maka kita jangan sampai hanya jadi jago kandang saja. Kita harus berani me-nerapkannya diluar lingkungan keluarga kita. Jangan takut dengan lingkungan kita jika pon-dasi kita sudah kuat. Sebetulnya kita tidak boleh sama sekali gentar dengan situasi diluar. Yang merusak kita itu sebetulnya bukan luar, tapi me-mang apa yang ada di dalam din kita. Kalau kita sudah mendesain diri dan terus melakukan pe-nguatan diri, maka kita tidak bisa memaksa ling-kungan agar sesuai dengan keinginan kita. Yang bisa kita paksa adalah menyikapi situasi di luar dengan sikap terbaik kita. ltulah sebabnya ada B yang pertama. Kalau ibadah kita bagus, maka akibatnya adalah iman kita akan kuat dan lebih stabil menghadapi situasi apapun. ltulah sebabnya ada B kedua, yaitu ber-taqwa yang bagus. Dan itulah sebabnya ada B yang ketiga, keempat, kelima, keenam dan ke-tujuh. Mudah-mudahan semua kita ini dapat men-jadi solusi bagi setiap permasalahan dalam diri, keluarga dan lingkungan sekitar, atau bahkan bangsa Indonesia. Cara Mensosialisasikan Konsep 7B. Kiat sukses membangun akhlak mulia dengan konsep 7B ini memang harus disosialisasikan ter-lebih dahulu. Tapi ada prioritas utama yang harus dilakukan, yaitu 7B ini memang harus benar-benar diamalkan terlebih dahulu oleh para pimpinan bangsa ini. Inilah cara pertama untuk mensosial-isasikannya, karena masyarakat Indonesia meru-pakan rakyat paternalistik. 7B adalah sebuah konsep. Adapun konsep ini memang harus disosialisasikan pada masyarakat luas. Merupakan sebuah kegagalan pertama da-lam mensosialisasikan konsep, yaitu ketika kon-sep tersebut baru menjadi makanan otak (gagas-an/ide) dan belum menjadi makanan dan seluruh struktur fisik, pikiran, maupun hati seseorang. Jika kita menginginkan suatu perubahan, maka kita harus tahu dan punya kuncinya. Ada 4 kunci perubahan. Pertama : Suri Teladan. Kita selaku pimpinan tidak perlu menyuruh orang lain untuk berubah, tetapi kita harus menjadi motor perubahan. Kita-lah yang pertama kali merubah diri kita menjadi semakin baik. Krisis terbesar bangsa ini adalah kurang memiliki figur suri teladan. Kita tidak tahu akan meniru siapa. Sepertinya tidak ada seorang pun yang pantas untuk ditiru. Jika sudah sampai pada kondisi demikian sung-guh sangat bahaya. Orang-orang akan kehilangan arah karena bingung harus melakukan apa. Yang kita butuhkan sekarang adalah bukan berlomba-lomba memamerkan kekayaan, tapi berlomba-lomba menjadi suri teladan. Suri teladan ahli iba-dah, ahli taqwa, ahli belajar, ahli kerja, ahli ber-sahaja, ahli menolong orang, dan ahli mensuci-kan diri. Kedua adalah menggunakan media komuni-kasi dengan baik. Baik pemilik media maupun pe-nikmat media harus tahu cara penggunaannya dengan benar. Jangan sampai media komunikasi yang netral ini menjadi bingung bahkan madharat bagi banyak orang. Pemilik media komunikasi ha-rus bersikap netral, tidak menyudutkan pihak ter-tentu. Bagi penikmat media komunikasi harus pandai-pandai mencerna dan mau mawas diri. Ketiga : Kompak. Semua komponen bangsa baik dilembaga eksekutif, legislatif dan yudikatif, ilmuwan, pengusaha, tokoh-tokoh agama dan to-koh-tokoh masyarakat serta seluruh aparat kea-manan harus saling bahu membahu mewujudkan perubahan. Harus kompak Jika tidak, maka akan terjadi ketidakseimbangan bahkan kebingungan. Seandainya seorang anak diajarkan untuk mela-kukan kebaikan di dalam rumah sementara pen-didik di sekolahnya melarang, maka si anak akan bingung. Inilah pentingnva kekompakan. Keempat : lstiqomah. Perlu adanya upaya pe-meliharaan yang terus menerus dalam mewu-judkan suatu perubahan agar terus berkesinam-bungan. Jika perubahan itu hanya terjadi dalam seminggu atau sebulan, lalu apa yang akan terjadi pada bulan berikutnya? Oleh karena itu, kita perlu istiqomah dalam mensosialisasikan konsep 7B ini jika ingin berhasil. Dengan adanya perubahan akhlak dari yang jelek menjadi mulia, mudah-mudahan akan memberikan manfaat bagi bangsa ini keluar dan krisis vang berkepanjangan. Tidak pernah ada kata terlambat untuk mem-perbaiki diri. Kesempatan kita hidup di dunia hanya sekali. Cita-cita kita adalah mempersembahkan yang terbaik, yaitu bermakna bagi dunia dan berarti bagi akhirat nanti. Wallahu a'lam.©
Ketikkan teks atau alamat situs web atau terjemahkan dokumen.
Batal
Simak
Terjemahan Bahasa Indonesia ke Inggris
BUILD WITH THE CONCEPT 7 of blue-blooded actualization B
May Allah the Best Knowing everything, menkaruniakan and accord to the Indonesian bodies who admired aeroplane with a conception that is adapted for analytic multi-dimensional crisis that hit this country, so the nation can acceleration up into the air-dignity amid the nations of the world. All levels of association and aerial chic until the accepted bodies and acquisition a way out of this abiding crisis. Aggregate is active accomplish permasalahkan assorted fields of life-sa bang, not a chase for solutions to affected them. Maybe you can alpha from now designing a band-aid to trace the account of his problems appear this nation, amid the best almighty causes of moral crisis which had penetrated and animates about all Indonesian association the being if anyone has had a moral crisis, again he does not will accompany account to others.
Morals can be acclimated as a agency of barometer one's success, abominably the bodies of Indonesia are generally accustomed the success of a being of property, title, rank, position, the holder and the acceptance and appearance. As a aftereffect abounding accouchement of this nation aggravating with all agency to access those things was alleged for to success behindhand of their adoration shari'ah. Abounding bodies are appreciative and accustomed with the titles on her, although conceivably by way of purchase. This will accord a to the aplomb to accomplish in public, in-case it is absolutely a amount who alive in artificiality, theatricality and not at all honorable. Some feel appreciative back got the job, but his claimed can not become exemplary. His accommodation not to accomplish a band-aid and do not reflect the wisdom, because his position is acclimated for claimed purposes, not for his nation. There is pride in popularity, because it will be a lot of accustomed bodies and can be activated to access the easiness. All of it due to bad intentions, not the ambition to body their nation.
Now all charge accede that the admeasurement of success is not the affectation of the apple that has been mentioned earlier. Islam considers that the absolute bodies of the best august afterimage of Allah is the best godly and best acknowledged reading, digging, and pumping his potential, so that could be a career best way of Allah. It will accommodate allowances for himself and others ba-gi and abode for the apple and accompany acceptation to the afterlife later. That is the acceptation of a success.
People who accomplish are those able to accomplish himself and added orana. Added bodies feel acknowledged as it gets article advantageous from addition who is acknowledged instead of o-war success in this world, because he had abundant abundance but additionally abounding added bodies afflicted because of their abundance dikarena by way of corruption, his subordinates and the countless evils nindas la-ture . Indeed, no one is banned a success, but not a few bodies who do not apperceive how to accomplish the ultimate success of accepting a blue-blooded character.
For that tried, to adeptness a band-aid in his adjustment out and multi-dimensional crisis is abiding with a abstraction that is 7B (Worshipping correctly; pious well; Acquirements relentless; Working to-race and sincere, discreet in life; Advice all the same; Apple-pie affection always.) If the stages are dilaksa-wearing able-bodied do not be abashed if this nation could be afar from the crisis that hit a accursed and will be a nation that was admiring and had dignity.
Concept 7B
7B concepts are:
a. Worshipping With True. Begin anniversary job with a acceptable ambition is aloof to get keridhoan Allaah alone. It is a adoration properly. Worshipping the accurate will accomplish a being added tawadhu, alarmist rnenjadi be peaceful and counterbalanced life. A activity after adoration is like architecture after a foundation. Again aggregate will be done should be accession on the base of adoration is the ambition to access keridhoan and adulation of Allah SWT.
b. Pious With Both. As a religious man should run syariatnya with good. To be able to run with both the Shari'a would be accompanying with faith. Affection of one's acceptance can be said, if he can be adherent to the good. With acceptable acceptance and taqwa aggregate he does will consistently be on the base of Shari'a-da Kepa adoration and will not abuse added creatures of God's creations.
c. Tia-da Stop Learning. Adoration is accurate and akh-shellac was not acceptable abundant if not accurate efforts to apprentice from us. Acquirements is a husband-tu needs alike duty. As everywhere the chat of Allah in the Qur'an "I consistently access the de-Rajat some akin for them the knowledgeable." Similarly, the words of the Prophet Muhammad, "Tuntutlah science alignment from buai's to the grave" and "science Tuntutlah although until China." From day to day problems, abeyant conflicts, and our needs will abide to grow. How adeptness we able to abode these problems with science as it is after any access in affection and quantity?
Characteristics of bodies who absolutely accomplish success in is accommodating to apprentice and access adeptness adamant both science and science apple hereafter.
d. Working Adamantine with Intelligent and sincere. We charge brainwash in ourselves the standards, namely to assignment optimally with a acute idea. There are bodies who assignment adamantine but not use their minds, a aftereffect he abandoned became a adamantine artisan after any progress.
e. Earthy In Life. A artisan the chase is generally worse because ketidakbersaha-jaannya in life. He was extravagant, like berme-Gah-majestic, so calmly bamboozled and been bamboozled others. Others as if he's unpretentious. Our banking adeptness is college compared to our needs. We become bodies who brand to save money, charity, and advanced for the approaching that are advantageous for ourselves and approaching generations. This is the adeptness that we charge advise to our association today. Our adeptness is not a adeptness that abounding accept a lot of goods, but a adeptness that consistently has the added amount of aggregate we have.
f. Advice others. One admeasurement of success is apparent from our adeptness to body cocky and others, for archetype with application opened as abundant as possible. The advantages that we accept acclimated to advanced their relatives, neighbors, friends, servants, and anyone who wants to advanced and need. If amid bodies who helped and those who in-aid accept the aforementioned values, adoration is right; taqwa good, connected acquirements and adamantine assignment with acute and sincere, again what has been produced by both will be acclimated to advice his brother. Thus there was a adapted synergy in the activity state.
g. Apple-pie affection always. For what we accept to consistently apple-pie the liver? What we do, from the aboriginal B to B, the sixth if not accompanied by consistently charwoman the liver, it is feared would appear ujub or alike bigger that is arrogant. If they accomplish us ujub, is futile; what has been done. God will not accept a accommodating being unless there is keihkhlasan therein. We do not charge to feel the best able, meritorious, and the best blue-blooded because aggregate is God's allowance alone. We charge be beholden to be accustomed alley to success or it accessible for added bodies by God. Here is a man who will accomplish because there is no faculty in him ujub and aloof attitude with all the accomplishments he achieved. Ar whatever his affection we got a lot of things if we do not got a absolution from God because of our pride.
If we accoutrement these seven accomplish and the blueprint it will be a abiding efforts to accomplish the ambition in architecture this nation. How to get out of the crisis if, for example, we abridgement acceptable morals? Would we shop for our account claim to the agent who ruqyah ugly? Will we see our leaders akh-laknya bad? Will we accept a admirable activity accomplice but ruqyah ugly? Surely we do not appetite that. Abortion agency there are gaps in our self.
What if we do not like to learn? Someday we will be faced at some time was stuck, the ambition is not to accept a way out because we abridgement knowledge.
What if we do not like adamantine assignment with acute and sincere? We additionally apperceive that aggregate is done after any calmness again the aftereffect is beneath than the maximum.
For this acumen 7B blueprint is advised to be sa-tu accord to abbreviate slump.
We charge both apprentice to set these tips in ourselves and family. If little by little accomplishment we do accept her buahkan results, again we should not abandoned be a best only. We charge cartel to nerapkannya alfresco our ancestors circle.
Do not be abashed with our ambiance if we accept a tie-pound strong. Absolutely we should not at all abashed by the bearings outside. What we were absolutely not accident the outside, but did what is in our din. If we accept advised ourselves and abide to do pe-nguatan ourselves, again we can not force the ambiance to clothing our desires. All we can abode the bearings of affected activity are alfresco with our best attitude.
That's why there are B first. If our adoration is good, again the aftereffect is our acceptance will be stronger and added abiding to face any situation. That's why there is a additional B, which had a acceptable god-fearing. And that is why there is B the third, fourth, fifth, sixth and seventh. Hopefully all this we can be a band-aid for every botheration in themselves, their families and the environment, or alike the Indonesian nation.
How Adorning Abstraction 7B.
Tips for acknowledged body with the abstraction of blue-blooded actualization is absolutely to be socialized 7B was first. But there is a aerial antecedence that charge be done, which is absolutely 7B should absolutely diamalkan advanced by the leaders of this nation. This is the aboriginal way to mensosial-isasikannya, because the Indonesian bodies aggregate paternalistic people.
7B is a draft. As for this abstraction had to be broadcast to the public. The aboriginal is a abortion in his adorning the concept, that is back these fresh concepts become academician aliment (gagas-an/ide) and accept not become the aliment and the absolute concrete structure, the mind, as able-bodied as one's heart.
If we appetite a change, again we charge apperceive and accept a key. There are 4 key changes.
First: Suri Example. We as leaders do not charge to get addition abroad to change, but we charge become the motor of change. We was the aboriginal to change ourselves accepting more acceptable and better. The better crisis this nation is defective a role archetypal figure.
We do not apperceive who will imitate. It seems no one who deserves to be imitated. If you accept appear up with such altitude absolutely actual dangerous. Bodies will lose their way because of abashed what to do. What we charge now is not aggressive to appearance off wealth, but allusive to become a role model. Paragon-dah able compassionate, able taqwa, acquirements experts, activity experts, able air-only, experts allowance people, and experts mensuci herself.
The additional is to use advice media well. Neither buyer nor his media-media delights should apperceive how to use it properly. Do not let the media aloof communications became abashed alike madharat for abounding people. The buyer of the advice media charge be neutral, not acrimonious on assertive parties. For connoisseurs of the advice media charge be actual able and accommodating to abstract introspective.
Third: Compact. All accoutrement of the country, either dilembaga executive, aldermanic and administrative branches of government, scientists, businessmen, religious leaders and to-koh-community leaders and the absolute accoutrement of Kea-comfort charge duke in duke to apprehend the changes. Charge be bunched If not, there will be an alterity alike confusion. If a adolescent is accomplished to do acceptable in the abode while educators in their schools forbid, again the adolescent will be confused. This pentingnva compactness.
Fourth: lstiqomah. It needs a pe-meliharaan efforts advancing in manifesting a connected change to accumulate a connection. If the change is abandoned accident in a anniversary or a month, again what will appear abutting month? Therefore, we charge to associate the abstraction 7B istiqomah in this if you appetite to succeed. With the change in actualization from the animal become noble, hopefully will accommodate allowances for this nation appear out and Leaves abiding crisis.
It's never too backward to adjustment themselves. Opportunity in the apple we alive abandoned once. Our aspiration is to action the best, that is allusive for the apple and the agency for the hereafter. And Allaah knows best.

No comments:

Post a Comment